Kamu dan Gili Labak




Deburan ombak dan desiran angin pada saat itu membawaku ingin mengingatnya kembali
20 juni 2018
Tak terasa sudah 2 tahun lamanya aku menunda untuk menulisnya
“kamu ikut aja” katanya
Sempat beberapa kali aku ragu namun  aku berfikir mungkin sesekali harus merasakan bagaimana rasanya pergi berdua setelah aku dan dia menginjak di tahun ke 2
Oh ralat
Aku pergi bersama keluarganya dan keluarku
Aku beberapa kali tersenyum mengingatnya.
Perjalanan kami sama saja seperti kalian yang pergi dengan pasangannya, bagaimana? Nyaman bukan?
Alam itu benar benar bisa menghinoptis ternyata
Semua tampak sempurna
Lautnya biru, pemandangannya bagus, oh bahkan sangat bagus, karang dan ikannya  terasa begitu dekat saat aku lihat dari atas perahu, seakan mereka semua telah berkerja sama untuk menyambut kami dengan keindahannya.
“Sampai” kataku dalam hati sembari dengan senyuman tentunya, rasanya  saat aku sampai angin berbisik kepada ku untuk menikmati pulau ini lebih jauh
Aku berjalan sambil menadangi bekas telapak kaki ku di pasir, berasa aku sedang meninggalkan jejak keindahan diatas pasir putih itu
Aku memejamkan mata sambil merasakan angin dan bunyi ombak yang bergantian seakan mereka berbisik akan kebahagiaan
Tapi aku merasakan hp ku yang terus berbunyi dan aku abaikan aku lihat ada banyak sekalii pesan yang masuk
“kamu dimana” katanya
Dan ya itu dia yang mengirimiku banyak sekali pesan hanya karna aku menghilang dari pandangannya
Aku hanya tersenyum saat itu sambil terus berkeliling melihat keindahan yang tak akan pernah bisa aku bayar
Langitnya cerah, awannya terlihat sangat putih, air nya seakan menyapa ku dengan ombaknya, sepertinya kalian harus kesini untuk merasakan bagaimana indahnya pulau ini
Aku membuka mataku dan dari kejauhan aku melihatnya dengan penuh kehawatiran dan ehm kerinduan mungkin yang jelas aku hanya tersenyum dengan tatapan polosku pura pura tidak tahu
“dari mana saja”
“aku mencarimu”
Dan banyak hal yang dia katakana, dan lagi lagi aku hanya tersenyum dan duduk didekatnya
“selamat 2thn 4 bulan” katanya sambil tersenyum
Aku sudah bilang, alam dan dia itu indah, lebih indah dari sajak yang selalu aku tulis. Dia indah bahkan tak pernah bisa aku tulis dengan sajak ku, walaupun aku berulang kali mengajaknya masuk ke semua tulisan ku.
“kenapa kaki aku dipegang?” kataku saat aku di kapal menuju arah pulang
Tak rela rasanya meninggalkan keindahan yang baru saja aku nikmati beberapa jam yang lalu
“tangan kmu udah ada jaketnya, jadi aku pegangin kakinya biar ga kedinginan” ucapnya
Aku melihat dia yang duduk sambil memegangi jari jari kaki ku haha lucu sekali rasanya aku takkeberatan bila harus selalu kedinginan asal berada didekatnya
Tak banyak yang aku lihat saat kembali kerumah, aku hanya melihat keindahan yang selalu disampingku, aku merasa keindahan yang ada di pulau itu tak bisa ku bawa karna keindahannya sebentar dan berasa semu, tapi dia keindahan yang abadi yang selalu bisa ku nikmati, dan hanya aku yang boleh.

Gili Labak, 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mungkin benar, aku saja yang pergi

Pergilah

aku orang baik